Ceritaku Diperantauan



Perjalanan ini dimulai pada pertengahan tahun 2014. Saat saya diterima disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Dengan doa dan dukungan orang tua dan keluarga. kubulatkan tekadku untuk pergi meninggalkan kampung tercinta Bulukumba. "Bismillahir rahmanir rahim yah Allah saya pergi dengan niat yang baik dan insha Allah pulang membawa dengan hasil yang baik pula, serta meraih kesuksesan dan dapat membahagiakan orang-orang terkasih". Amin.. itulah sepenggal doa saya ketika hendak pergi meninggalkan kampung tercinta. Tepatnya hari sabtu 30 agustus, dengan ditemani keluarga ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Di Bandara saya bertemu dengan teman seperjuangan yang akan berangkat bersama dengan saya. Dengan keberangkatan waktu pesawat yang semakin dekat,  Kuminta sekali lagi restu dari kedua orang tua dan keluarga. Ku tak kuasa menahan rasa haru dan sedih. Kumeliat raut wajah mereka yang tampak sedih, namun kuyakinkan mereka bahwa saya akan pulang bahagiakan kalian. Tak lama kemudian saya masuk untuk boarding pass dan menunggu keberangkatan. 

" Penumpang Pesawat keberangkatan jam 23:25 WITA tujuan Jakarta dipersilahkan menuju Gate 5" kurang lebih seperti itulah yang saya dengar :). Selama 2 jam 25 menit diudara, kutermenung memikirkan bagaimana kehidupan di Jakarta nantinya, yang terngiang dikepala saya hanya kata-kata yang biasa saya dengar "Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri". Bukan waktu yang singkat untuk tinggal di Ibukota Indonesia ini. Selama kurang lebih 4 tahun merasakan kehidupan, apalagi jauh dari orang tua dan kerabat, yang kata orang lain begitu keras dan tingkat kriminalitasnya yang tinggi. Namun, hati ini tetap pada pendiriannya, niat kita baik dan selama kita masih dijalan-Nya kita akan terjaga sepanjang waktu.

Terbangun dari tidur singkat mendengar peringatan dari pramugari, bahwa pesawat akan landing 20 menit lagi. "Terima kasih telah terbang bersama kami", kurang lebih seperti itulah saat pesawat landing, tepatnya jam 01:50 WIB. Kami naik bis yang sudah menunggu dan mengantar keruang penjemputan dan mengambil barang bawaan kami. Tak lama kemudian jemputan kami tiba. Hujan yang gerimis ditengah malamnya jakarta seakan  memberikan ucapan selamat datang, semoga hujan ini berkah dan awal yang baik saya menginjakkan kaki pertama kali di Ibukota (ucap dalam hati). dalam perjalan kumelihat kekiri dan kekanan gedung-gedung tinggi yang berjejerang disepanjang jalan dan pengguna jalan serta tempat-tempat umum yang ramai yang seakan tidak mengenal waktu. Yah inilah Ibukota, baik siang maupun malam yang tidak kenal dengan kesepian. "Kesepian" bukan maksud saya menyinggung para Jones yang lagi kesepian, hehehe :D maksud saya kota ini tidak pernah sepi dengan manusianya yang mempunyai aktivitas dan kesibukan masing-masing. Kurang lebih 1 jam perjalan, saya sampai ditempat yang telah disediakan untuk menginap sementara sebelum mendapat tempat yang tetap. Kuangkat barang bawaanku dan menyimpannya dilemari kamar dan langsung merebahkan tubuh ini yang sudah sangat lelah karena menempuh perjalanan yang jauh.

Allahu akbar, allahu akbar, kuterbangun dengan suara adzan yang sangat dekat dengan tempat tidur saya. Karena masjidnya berada tepat didepan rumah. Kubergegas mengambil air wudhu untuk pergi shalat subuh, kurasakan pagi jakarta yang begitu berbeda dengan kampung halaman saya. Kumulai berkenalan dengan teman-teman yang berasal dari Kalimantan karena memang tempat yang saya tinggal sementara itu Asrama Kukar Kalimantan, mereka baik semua dan welcome terhadap saya, saya cepat akrab dengan mereka karena mereka rata-rata orang asli bugis yang sudah lama menetap di Kalimantan dan mereka wakil-wakil Pemda Kalimantan untuk kuliah disini.

Tak terasa hari demi hari kulalui kehidupan di Jakarta, kebiasaan dikampung sudah terkikis dengan kebiasaan yang biasa kulakukan disini, kalau makan, diwarteg efridei :), mencuci dan menyetrika pakaian, dan harus pandai-pandai mengatur keuangan, dan harus memanage waktu dengan baik serta melakukan kewajiban-kewajiban saya sebagai manusia. Setelah kurampungkan segala urusan dikampus, tak lengkap rasanya kalau tidak mengelilingi kota jakarta dan sekitarnya.

Yah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah tempat wisata pertama yang kukunjungi. Kukelilingi setiap sudut tempatnya sambil mengabadikannya, replika rumah adat dari seluruh daerah provinsi di Indonesia yang terbentang disepanjang tempat yang cukup luas. Air mancur dan danau serta taman-taman yang tertata dengan rapi, dan dilengkapi dengan replika-replika bangunan yang begitu indah. Areanya cukup luas, kita bisa menggunakan jasa rental sepeda dan motor serta bisa melihat pemandangan dari udara dengan menggunakan gondola. 

Tak terasa waktu sudah berlalu, matahari sudah menguning diufuk barat, seperti rencana sebelumnya kami ingin mengunjungi TMII dan selanjutnya adalah Monumen Nasional (Monas). Kata orang sih tidak afdal rasanya ke Jakarta kalau belum mengunjungi Monas :). Dalam perjalanan saya disuguhkan dengan perlak perlik lampu kota Jakarta dimalam hari, satu hal yang paling membosankan, bukan jakarta namanya kalau tidak macet. :v hehehe, ini salah satu PR pemerintah, mudah-mudahan bisa cepat diatasi.

Sekitar jam 8 malam saya sampai di Monas, coba teman-teman tebak, hal apa yang pertama saya lakukan ketika sampai di Monas?Yah, mengambil gambar atau biasanya anak zaman sekarang bilangnya selfie-selfie gitulah. Malam itu adalah malam minggu jadi pengunjung cukup padat, dan pedagang-pedagang kaki lima mengambil peluang untuk menjajahkan dagangannya. Saya penasaran dengan makanan khas Betawi, teman tahu yang namanya kerak telor? Yah makanan khas Betawi yang pertama kucicipi, rasanya top markotoplah. Memang kuliner-kuliner disetiap daerah di Indonesia mantap. Tidak ada duanya, jadi kita harus bangga  jadi anak Indonesia. Karena Indonesia adalah negara kaya. 

Hari-hari libur pun berlalu, dan hari pertama Orientasi Pengenalan Akademik & Kemahasiswaan (OPAK) telah tiba, dengan berpakaian hitam putih, dan membawa gabah kukus, air dari gunung salad, sayuran cina, buah upacara, kedelai jelek, snack pesawat, teman pasti tahu apa arti dari makanan dan minuman tersebut :). OPAK dilaksanakan selama 3 hari, setiap harinya diberi PR lagi, dengan membawa makanan dan minuman yang pasti beda lagi dengan yang diatas nama-namanya. Kita harus pandai-pandai menebaknya apa maksud dari makanan tersebut, kalau tidak pasti ada sanksinya :), dan pastinya materi yang disampaikan setiap harinya berbeda-beda dengan jadwal jam masuk 07:00 dan pulangnya jam 16:00WIB. Setelah OPAK berlangsung selama 3 hari, acara selanjutnya Inagurasi selama 2 hari dipuncak, Bogor. Disini saya mendapat pengalaman baru, mendapat teman baru, dengan dibekali dengan ilmu dan bagaimana  melatih fisik dan mental kita, serta keseruan-keseruan dari outboundnya, saya benar-benar merasakan bagaimana kebersamaan itu,setiap yang kita lakukan dibatasi dengan waktu, jadi kita dituntut harus memanage waktu dengan baik. Tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya lakukan  dimasa putih abu-abu dulu. bersama dengan saudara/i Osis/Mpk. (Flashback :).

Kuliah perdana bertemu dengan wajah-wajah baru dari berbagai daerah di Indonesia, ada dari Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Madura, Sulawesi, Maluku dan dari Jawa. Pokoknya Nusantara deh :). Dengan perbedaan latar belakang, kita harus benar-benar saling menghargai agama, ras, suku, dan adat istiadat. Dengan berpedoman pada ideologi negara kita yaitu Pancasila,  disinilah saya mendapat banyak praktek pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. "Bhinneka Tunggal Ika" berbeda-beda tapi tetap satu. Tapi terlepas dari semua itu, kita harus selektif dalam memilih teman, bukan deskriminasi, tapi kita tahu mana teman yang baik untuk kita dan sebaliknya. 

Kehidupan di Ibukota hari demi hari kulalui. kuliah, refreshing, Mengasah bakat, adalah aktivitas yang biasa kulakukan. Kehidupan disini cukup keras, itu tergantung pribadi yang menjalaninya. Saya sempat beberapa kali kurang sehat, disebabkan baru beradabtasi dengan lingkungan yang jauh berbeda dengan kampung halaman saya. Hidup diperantauan harus jaga diri. Baik dari kesehatan maupun pergaulan, jangan mudah percaya sama oranglain. Kejadian-kejadian yang mungkin langkah dikampung halamanmu dapat anda lihat disini. Jauh dari orang tua adalah hal yang harus kamu lalui, hanya sahabat yang bisa kamu andalkan. Dan berulang kali saya sampaikan jangan pernah lalaikan kewajiban, Ingat wajah dan pengorbanan orangtua dirumah yang susah payah mengais rezeky untuk studimu sampai saat ini, dan ingat orang-orang yang mengsupport kamu dari belakang, bahwa kamu adalah orang yang dapat membanggakan mereka. Memang kamu sendiri dalam situasi tapi upaya dan doa orang-orang terkasih yang membuatmu bertahan sampai saat ini. Terlepas dari keluarga, kalian adalah para penerus bangsa, maka perbaikilah dirimu karena masa depan bangsa ada pada kalian.

Hidup diperantauan itu ada positif & negatifnya, teman-teman harus selektif dalam mengambil sebuah keputusan, ambil yang positifnya dan abaikan yang buruknya, dan kalau ada kebiasaan buruk masih terpelihara dalam diri maka buang jauh-jauh, karena menghilangkan sebuah kebiasaan buruk harus dilakukan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Hidup adalah pilihan, tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan.
Salam mahasiswa Indonesia.

Komentar